RELEVANSI KEHIDUPAN
25 November 2025
•
Admin
Rencana pelajaran PAI ini dirancang untuk kelas 7–9 SMP dengan penekanan pada pembelajaran aktif, internalisasi nilai, dan penerapan nyata di kehidupan sehari-hari siswa. Nilai inti yang difokuskan adalah kejujuran, tanggung jawab, adab kepada orang tua, dan menjaga amanah.[1][2][3]
## Identitas dan konsep utama
- Kelompok usia sasaran: Siswa kelas 7–9 SMP (fase remaja awal yang sedang membangun identitas moral dan sosial).[4][1]
- Konsep Islam utama:
- Kejujuran (ṣidq) dalam niat, ucapan, dan perbuatan.[2][1]
- Tanggung jawab terhadap Allah, diri sendiri, orang tua, guru, teman, dan lingkungan.[5][1]
- Adab terhadap orang tua: berkata lembut, taat selama bukan maksiat, mendoakan, dan menjaga nama baik keluarga.[5][4]
- Menjaga amanah: menjaga rahasia, tugas, fasilitas sekolah, dan kepercayaan di dunia nyata maupun digital.[6][2]
## Tujuan dan hasil pembelajaran
- Siswa mampu menjelaskan makna jujur, tanggung jawab, adab kepada orang tua, dan amanah berdasarkan dalil dan contoh sederhana.[1][4]
- Siswa menunjukkan perilaku jujur dalam kegiatan sekolah (misalnya tidak menyontek, tidak memanipulasi presensi, berkata apa adanya kepada guru dan teman).[2][6]
- Siswa mampu mengidentifikasi dilema moral di sekolah/rumah dan memilih tindakan yang sesuai nilai Islam.[3][6]
- Siswa membiasakan satu bentuk aksi nyata (habit) Islami yang dapat dipantau minimal selama satu pekan, seperti jujur pada penggunaan uang saku atau konsisten membantu orang tua.[7][2]
## Aktivitas dan metode pembelajaran
- Diskusi kelompok aktif:
- Guru menyiapkan beberapa skenario pendek terkait kejujuran, tanggung jawab, dan adab kepada orang tua (misalnya kasus menyontek, titip absen, atau berbohong kepada orang tua).[3][6]
- Siswa bekerja dalam kelompok kecil untuk mengidentifikasi masalah, nilai Islam yang terlibat, pilihan tindakan, dan konsekuensinya. Mereka kemudian mempresentasikan hasil diskusi dan menanggapi kelompok lain.[8][3]
- Studi kasus dan problem-based learning:
- Guru memberikan studi kasus tertulis atau video singkat tentang penggunaan gawai, media sosial, dan tanggung jawab di rumah/sekolah.[9][10]
- Siswa diminta menganalisis kasus dari perspektif syariat dan akhlak: mana yang sesuai/bertentangan, serta bagaimana memperbaiki situasi tersebut.[6][7]
- Role play (dramatisasi nilai):
- Siswa memerankan situasi: “berkata jujur saat ditanya guru”, “menolak ajakan menyontek”, “berbicara sopan kepada orang tua meski berbeda pendapat”, atau “menjaga amanah sebagai bendahara kelas”.[8][6]
- Setelah pementasan, kelas melakukan refleksi: perasaan tokoh, dampak perilaku, dan nilai Islam yang dipraktikkan sehingga empati dan kesadaran moral siswa menguat.[3][8]
- Refleksi harian dan jurnal:
- Siswa menulis jurnal refleksi singkat tentang satu peristiwa dalam harinya yang berkaitan dengan kejujuran, tanggung jawab, atau adab kepada orang tua (apa yang terjadi, apa yang dilakukan, apa yang seharusnya dilakukan menurut Islam).[11][7]
- Guru memberi umpan balik umum di kelas, menekankan kemajuan dan motivasi, bukan sekadar mengoreksi kesalahan.[12][13]
- Proyek aksi nyata Islami (project-based learning):
- Dalam kelompok, siswa merancang “Gerakan Kelas Jujur dan Amanah” atau “Pekan Berbakti kepada Orang Tua”.[14][6]
- Bentuk aksi bisa berupa: poster digital/analog, kampanye konten Islami di media sosial sekolah, jadwal piket yang dijalankan dengan disiplin, atau komitmen membantu orang tua di rumah dengan laporan singkat.[9][4]
## Contoh kontekstual kehidupan sehari-hari
- Di sekolah:
- Mengaku kepada guru jika terlambat karena alasan sebenarnya, tidak memalsukan tanda tangan orang tua, menolak menyalin jawaban saat ulangan, dan mengembalikan barang temuan ke guru.[4][2]
- Menjalankan amanah sebagai pengurus kelas atau OSIS, seperti menjaga kas, inventaris, dan data teman secara bertanggung jawab.[2][8]
- Di rumah:
- Berkata jujur kepada orang tua tentang nilai, teman, dan aktivitas di luar rumah; tidak menyembunyikan hal penting yang berpotensi membahayakan diri.[7][5]
- Membantu orang tua: membersihkan rumah, menjaga adik, atau menemani orang tua tanpa harus selalu diminta, sebagai wujud syukur dan adab.[5][4]
- Di dunia digital:
- Memilih untuk lebih sering mengonsumsi konten Islami, positif, dan edukatif di media sosial, serta menghindari konten yang mendorong kebohongan, perundungan, atau gibah.[10][6]
- Menjaga amanah dan kejujuran di ruang digital, misalnya tidak menyebarkan rahasia chat teman, tidak melakukan plagiarisme tugas, dan tidak menyebar hoaks.[9][6]
## Strategi penilaian aktif dan autentik
- Observasi sikap dan catatan anekdot:
- Guru mengamati perilaku siswa selama diskusi, role play, kerja kelompok, dan interaksi sehari-hari, lalu mencatat contoh konkret perilaku jujur, bertanggung jawab, beradab, dan amanah.[13][7]
- Observasi juga dapat melibatkan guru lain atau wali kelas untuk mendapatkan gambaran perilaku siswa di berbagai konteks.[12][13]
- Jurnal refleksi dan self-assessment:
- Siswa mengisi jurnal refleksi mingguan dan lembar penilaian diri yang memuat indikator kejujuran, tanggung jawab, dan adab.[11][7]
- Guru menggunakan instrumen sederhana yang telah divalidasi secara pedagogis sebagai rujukan dalam mengembangkan penilaian afektif.[11][12]
- Kuis nilai dan pemahaman konsep:
- Kuis singkat untuk menguji pemahaman makna kejujuran, tanggung jawab, adab kepada orang tua, dan amanah, serta konsekuensi meninggalkan nilai tersebut.[1][4]
- Item kuis dapat berupa soal pilihan ganda berbasis kasus singkat sehingga siswa tetap berpikir kritis, bukan hafalan definisi semata.[10][2]
- Presentasi dan produk proyek:
- Kelompok mempresentasikan hasil proyek aksi nyata (poster, kampanye, laporan pekan bakti orang tua), menjelaskan nilai Islam yang diterapkan dan tantangan yang mereka hadapi.[14][6]
- Guru menilai aspek isi (kesesuaian dengan nilai Islam), kreativitas, kerjasama, dan kesungguhan menjalankan aksi, dilengkapi rubrik yang jelas sehingga penilaian transparan bagi siswa.[14][7]
Rangkaian elemen di atas saling terhubung untuk menggeser pembelajaran PAI dari sekadar hafalan menuju proses reflektif, dialogis, dan aplikatif sehingga nilai-nilai Islam benar-benar hidup dalam keseharian siswa SMP.[1][3]
[1](http://repository.radenfatah.ac.id/45562/1/Buku%20Metodologi%20Pembelajaran%20PAI%20ISBN.pdf)
[2](https://id.scribd.com/document/660272623/RPP-MODUL-AJAR-Kelas-8-Tentang-Jujur)
[3](https://jurnal.uinsyahada.ac.id/index.php/Educationist/article/download/15414/pdf)
[4](https://static.buku.kemdikbud.go.id/content/pdf/bukuteks/kurikulum21/Islam-BS-KLS-VIII.pdf)
[5](https://e-jurnalstpbonaventura.ac.id/index.php/JURKAPS/article/download/60/43/272)
[6](https://ejournal.unuja.ac.id/index.php/edureligia/article/download/8596/pdf)
[7](https://zia-research.com/index.php/cendekiawan/article/download/332/290)
[8](https://ejournal.uniramalang.ac.id/isiep/article/download/5971/3569/36209)
[9](https://repository.uindatokarama.ac.id/id/eprint/3789/1/Strategi%20Pembelajaran%20Pendidikan%20Agama%20Islam.pdf)
[10](https://www.academicareview.com/index.php/jh/article/download/251/151)
[11](https://www.pegegog.net/index.php/pegegog/article/view/1896)
[12](https://ejournal.umm.ac.id/index.php/progresiva/article/download/31509/14454)
[13](https://incoils.or.id/index.php/INCOILS/article/view/276)
[14](https://repository.syekhnurjati.ac.id/17298/1/Inovasi%20Model%20Pembelajaran%20PAI%20Di%20Era%20Digital.pdf)
[15](https://jurnal.iaih.ac.id/index.php/pojokguru/article/download/1065/377)
[16](https://repository.iainpare.ac.id/id/eprint/11033/1/2220203886109066%20IDAR.pdf)
[17](https://repository.uir.ac.id/2032/1/21-PAI-6%20metode%20Ilmiah%20dan%20%20Inovatif.pdf)
[18](http://repository.undaris.ac.id/id/eprint/1660/1/27.%20Skripsi%20Rofiqotul%20Ulya.pdf)
[19](https://id.scribd.com/document/886538037/4-Lesson-Plan-Bab-4-PAI)
[20](https://www.kompas.com/skola/read/2025/09/23/161318469/4-contoh-studi-kasus-ppg-2025-masalah-media-lkpd-strategi-pembelajaran-dan)
Berikut contoh rubrik penilaian sikap jujur dan tanggung jawab yang praktis digunakan guru SMP. Rubrik memakai skala 1–4 dengan deskriptor perilaku yang dapat diamati agar penilaian lebih objektif dan konsisten.[1][2]
## A. Skala dan kriteria umum
- Skor 4: Selalu – hampir setiap kesempatan menunjukkan perilaku yang diharapkan, tanpa diminta.[1]
- Skor 3: Sering – sering menunjukkan perilaku yang diharapkan, meski kadang masih lalai.[1]
- Skor 2: Kadang-kadang – hanya sesekali menunjukkan perilaku yang diharapkan dan sering perlu diingatkan.[1]
- Skor 1: Tidak pernah – hampir tidak pernah menunjukkan perilaku yang diharapkan meski sudah diingatkan.[1]
## B. Indikator sikap jujur
Nilai inti: mengatakan dan bertindak apa adanya, tidak curang, dan dapat dipercaya dalam tugas sekolah maupun interaksi sosial.[5][1]
- Indikator J1: Tidak menyontek dan tidak membantu teman menyontek saat ulangan/tugas.
- 4: Sama sekali tidak menyontek dan tidak memberi jawaban; berani menolak ajakan menyontek.
- 3: Umumnya tidak menyontek; pernah sekali-kali ragu/ikut membantu teman.
- 2: Beberapa kali menyontek atau memberi jawaban kepada teman ketika ada kesempatan.
- 1: Sering menyontek dan/atau aktif mengajak dan membantu teman menyontek.
- Indikator J2: Tidak melakukan plagiarisme dalam tugas.
- 4: Mengutip sumber dengan benar, tugas orisinal, tidak menyalin dari internet/teman.
- 3: Sebagian besar tugas orisinal; sesekali menyalin tanpa sumber yang jelas.
- 2: Sering menyalin tugas dari teman atau internet dengan sedikit perubahan.
- 1: Hampir seluruh tugas hasil salinan tanpa usaha sendiri.
- Indikator J3: Mengakui kesalahan dan menyampaikan informasi apa adanya.
- 4: Segera mengakui kesalahan tanpa disuruh dan melaporkan kejadian sesuai fakta.
- 3: Mengakui kesalahan setelah dipancing/diberi pertanyaan; umumnya berkata apa adanya.
- 2: Cenderung menutupi kesalahan, baru mengakui setelah bukti kuat.
- 1: Konsisten menyembunyikan kesalahan dan sering memberi informasi tidak benar.
- Indikator J4: Jujur dalam penggunaan fasilitas dan amanah (uang kas, barang kelas, dsb.).
- 4: Menggunakan barang/uang sesuai kesepakatan dan melaporkan jika ada kelebihan/kekurangan.
- 3: Umumnya tertib, namun pernah kurang teliti (misalnya terlambat melapor).
- 2: Kurang hati-hati, pernah memakai tanpa izin atau tidak segera mengembalikan.
- 1: Sering memakai tanpa izin dan menolak bertanggung jawab saat diminta penjelasan.
## C. Indikator sikap tanggung jawab
Nilai inti: menuntaskan tugas, memegang komitmen, dan dapat diandalkan dalam peran sebagai pelajar dan anggota kelas.[2][6]
- Indikator T1: Menyelesaikan tugas tepat waktu dan sesuai instruksi.
- 4: Selalu mengumpulkan tepat waktu, tugas lengkap dan sesuai kriteria.
- 3: Hampir selalu tepat waktu, kadang ada bagian kurang lengkap.
- 2: Sering terlambat atau perlu diingatkan berkali-kali untuk menyelesaikan tugas.
- 1: Jarang mengumpulkan tugas atau sering tidak mengerjakan.
- Indikator T2: Kehadiran dan kesiapan belajar (membawa perlengkapan, buku, dsb.).
- 4: Hadir tepat waktu, membawa perlengkapan yang diminta, siap mengikuti pelajaran.
- 3: Kadang terlambat atau lupa perlengkapan tetapi segera memperbaiki.
- 2: Sering terlambat atau sering tidak membawa perlengkapan belajar.
- 1: Sangat sering tidak siap belajar dan tidak menunjukkan usaha memperbaiki.
- Indikator T3: Menjalankan tugas dan peran (piket, pengurus kelas, kelompok).
- 4: Menjalankan tugas tanpa disuruh, membantu teman jika diperlukan.
- 3: Menjalankan tugas setelah diingatkan, hasil tugas umumnya baik.
- 2: Sering lupa atau menunda tugas, membutuhkan pengawasan ketat.
- 1: Menolak atau hampir selalu mengabaikan tugas yang menjadi tanggung jawabnya.
- Indikator T4: Menjaga konsekuensi dan memperbaiki kesalahan.
- 4: Mau menerima konsekuensi, memperbaiki sendiri (misal: membersihkan, memperbaiki tugas).
- 3: Menerima konsekuensi setelah diarahkan dan mau memperbaiki.
- 2: Cenderung menghindar dari konsekuensi, perbaikan dilakukan setengah hati.
- 1: Menolak konsekuensi dan tidak menunjukkan usaha memperbaiki.
## D. Cara penggunaan rubrik oleh guru
- Guru memilih 3–5 indikator paling relevan untuk periode tertentu (misalnya J1, J3, T1, T3), lalu melakukan observasi selama beberapa minggu dan memberi skor 1–4 per indikator.[6][1]
- Skor dapat dianalisis menjadi predikat (SB, B, C, K) dan dilengkapi catatan deskriptif singkat yang berisi contoh perilaku nyata sebagai umpan balik bagi siswa dan orang tua.[3][9]
[1](https://id.scribd.com/document/870980437/Penilaian-Aspek-Sikap-Jujur)
[2](https://www.slideshare.net/slideshow/contoh-instrumen-dan-rubrik-penilaian/76174206)
[3](https://eprints.uny.ac.id/67383/1/SKRIPSI_Maulida%20Balqis%20Nafisa_15204241010.pdf)
[4](https://id.scribd.com/document/367509892/Contoh-Instrumen-Beserta-Rubrik-Penilaian)
[5](https://jurnal.jomparnd.com/index.php/jupenji/article/view/624)
[6](https://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/JJPGSD/article/download/32979/18017/74535)
[7](https://spada.uns.ac.id/mod/resource/view.php?id=188872)
[8](https://docs.google.com/document/d/1su62J8yIsyzfdghYmpaJF3aKTJx8j7RHc6U2omKp79k/edit)
[9](http://repository.upi.edu/105655/1/T_PGSD_TSK_2105232_Title.pdf)
[10](https://id.scribd.com/document/641750024/CONTOH-RUBRIK-PENILAIAN-SIKAP)
Berikut contoh rubrik penilaian sikap jujur 4 level yang bisa langsung digunakan guru (format observasi guru di kelas).
## 1. Skala penilaian (4 level)
- 4 = Sangat Baik (SB): Selalu menunjukkan sikap jujur, konsisten dalam berbagai situasi.
- 3 = Baik (B): Sering menunjukkan sikap jujur, hanya sesekali lalai.
- 2 = Cukup (C): Kadang-kadang jujur, sering perlu diingatkan.
- 1 = Kurang (K): Jarang/nyaris tidak pernah menunjukkan sikap jujur.
## 2. Indikator sikap jujur
Gunakan 3–5 indikator berikut sesuai kebutuhan:
- J1: Tidak menyontek dalam ulangan/tugas.
- J2: Tidak melakukan plagiarisme (menyalin tugas/ sumber tanpa menyebutkan sumber).
- J3: Mengakui kesalahan dan berkata apa adanya.
- J4: Menjaga amanah terkait barang/uang yang dititipkan.
- J5: Tidak memanipulasi informasi (nilai, presensi, alasan terlambat, dsb.).
## 3. Deskripsi rubrik per indikator
Contoh untuk setiap indikator (guru dapat menyalin pola ini):
1) Indikator J1 – Tidak menyontek
- Skor 4 (SB): Selalu mengerjakan ulangan/tugas sendiri, menolak ajakan menyontek dan tidak memberi jawaban kepada teman.
- Skor 3 (B): Umumnya mengerjakan sendiri; sesekali ragu namun tidak sampai aktif menyontek atau memberi jawaban.
- Skor 2 (C): Beberapa kali menyontek atau meminta jawaban teman ketika ada kesempatan.
- Skor 1 (K): Sering menyontek dan/atau mengajak serta membantu teman menyontek.
2) Indikator J2 – Tidak plagiarisme
- Skor 4 (SB): Tugas orisinal, selalu menuliskan sumber jika mengambil dari buku/internet/teman.
- Skor 3 (B): Sebagian besar orisinal, kadang menyalin sebagian tanpa keterangan sumber.
- Skor 2 (C): Sering menyalin tugas dari teman atau internet dengan sedikit perubahan.
- Skor 1 (K): Hampir seluruh tugas hasil salinan (copy–paste) tanpa usaha sendiri.
3) Indikator J3 – Mengakui kesalahan dan berkata apa adanya
- Skor 4 (SB): Segera mengakui kesalahan tanpa disuruh, menjelaskan kejadian sesuai fakta.
- Skor 3 (B): Mengakui kesalahan setelah diberi pertanyaan/teguran, umumnya berkata jujur.
- Skor 2 (C): Cenderung menutupi kesalahan, baru mengakui setelah ada bukti kuat.
- Skor 1 (K): Sering berbohong, menyalahkan orang lain, dan menolak mengakui kesalahan.
4) Indikator J4 – Menjaga amanah (barang/uang)
- Skor 4 (SB): Menjaga barang/uang titipan dengan baik, mengembalikan tepat waktu dan melaporkan jika ada selisih/masalah.
- Skor 3 (B): Umumnya menjaga amanah; pernah lalai kecil tetapi segera memperbaiki/melapor.
- Skor 2 (C): Pernah menggunakan atau memegang amanah tidak sesuai kesepakatan (misalnya terlambat mengembalikan) dan perlu diingatkan.
- Skor 1 (K): Menggunakan barang/uang titipan tanpa izin dan tidak mau bertanggung jawab ketika ditanya.
5) Indikator J5 – Tidak memanipulasi informasi
- Skor 4 (SB): Selalu menyampaikan informasi apa adanya (nilai, presensi, alasan terlambat, dll.) tanpa dibuat-buat.
- Skor 3 (B): Umumnya berkata jujur, sekali-dua kali memberi alasan yang kurang tepat tetapi mau mengoreksi.
- Skor 2 (C): Cukup sering memberikan alasan yang direkayasa untuk menghindari teguran/tugas.
- Skor 1 (K): Terbiasa memanipulasi informasi (bohong tentang tugas, nilai, presensi, dll.).
## 4. Cara menggunakan
- Pilih indikator yang digunakan (misalnya J1, J3, J4, J5) dan observasi perilaku siswa dalam periode tertentu (1–4 minggu).
- Beri skor 1–4 per indikator, lalu rata-rata untuk mendapatkan skor akhir sikap jujur; konversi ke predikat (SB, B, C, K) dan lengkapi dengan catatan contoh perilaku nyata sebagai umpan balik.
[1](https://id.scribd.com/document/546132208/FORM-PENILAIAN-DIRI-JUJUR)
[2](https://id.scribd.com/document/540534413/06-RUBRIK-PENILAIAN-SIKAP)
[3](https://spada.uns.ac.id/mod/resource/view.php?id=32865)
[4](https://id.scribd.com/document/730042097/Contoh-Pengembangan-Rubrik-Penilaian-Sikap-Kejujuran-ok)
[5](https://www.smpn17tangerang.sch.id/upload/file/40679733InstrumenSikapSosial.docx)
[6](https://headerimaging.blogspot.com/2015/11/contoh-format-instrumen-untuk-penilaian.html)
[7](https://eprints.uny.ac.id/67383/1/SKRIPSI_Maulida%20Balqis%20Nafisa_15204241010.pdf)
[8](https://sman1pare.sch.id/wp-content/uploads/2013/10/MODEL-PENIL-HSL-BEL-SMA.pdf)
[9](https://www.academia.edu/14880332/Teknik_Penilaian_Sikap)
[10](https://www.slideshare.net/slideshow/sikapjujurppt/254500203)
Berikut contoh deskripsi perilaku untuk setiap level penilaian sikap jujur (bisa dipakai langsung di rapor atau catatan guru).
## Level 4 – Sangat Jujur
- Selalu berkata apa adanya meskipun berisiko ditegur atau mendapat konsekuensi.
- Mengakui kesalahan tanpa perlu didesak dan berusaha memperbaikinya.
- Tidak menyontek atau memberi jawaban kepada teman, serta menolak ajakan berbuat curang.
- Menjaga amanah (barang, uang, informasi) dengan baik dan mengembalikan jika bukan miliknya.
## Level 3 – Jujur
- Umumnya berkata jujur, kadang ragu tetapi akhirnya tetap menyampaikan fakta sebenarnya.
- Mengakui kesalahan setelah diberi pertanyaan atau diingatkan guru/orang tua.
- Hampir selalu mengerjakan tugas sendiri, hanya sesekali tergoda melihat jawaban teman.
- Menjaga amanah, meski kadang perlu diingatkan untuk segera melapor atau mengembalikan.
## Level 2 – Kurang Jujur
- Kadang berkata jujur, tetapi cukup sering melebihkan, mengurangi, atau memelintir fakta.
- Cenderung menunda mengakui kesalahan dan baru mengaku ketika sudah jelas ketahuan.
- Beberapa kali menyontek atau meminta jawaban teman saat ada kesempatan.
- Kurang hati-hati menjaga amanah dan pernah menggunakan barang/uang titipan tanpa izin.
## Level 1 – Tidak Jujur
- Sering berbohong untuk menghindari teguran, hukuman, atau tugas.
- Menolak mengakui kesalahan dan sering menyalahkan orang lain.
- Terbiasa menyontek, memberi jawaban, atau merancang cara-cara curang dalam tugas/ujian.
- Menggunakan barang/uang yang bukan miliknya dan tidak mau bertanggung jawab ketika diminta penjelasan.
[1](https://www.halodoc.com/artikel/contoh-perilaku-jujur-dasar-utama-pendidikan-karakter-anak)
[2](https://www.gramedia.com/literasi/contoh-perilaku-jujur-dan-manfaatnya/)
[3](https://www.orami.co.id/magazine/perilaku-jujur)
[4](https://hellosehat.com/parenting/anak-6-sampai-9-tahun/perkembangan-anak/contoh-sikap-jujur-anak-di-sekolah/)
[5](https://tirto.id/contoh-perilaku-jujur-dalam-kehidupan-maknanya-menurut-al-quran-gams)
[6](https://digilib.upgripnk.ac.id/id/eprint/1288/3/BAB%20II.pdf)
[7](https://id.scribd.com/document/881281895/Modul-Ajar-SIkap-Jujur)
[8](https://brainly.co.id/tugas/12367074)
Berikut beberapa contoh kalimat deskripsi level “Sangat Baik” untuk sikap jujur di kelas yang bisa langsung dipakai di rapor atau catatan guru:
- “Selalu berkata apa adanya dan berani mengakui kesalahan tanpa perlu diminta, sehingga menjadi teladan kejujuran bagi teman-temannya.”
- “Konsisten mengerjakan tugas dan ulangan secara mandiri tanpa menyontek serta menolak ajakan berbuat curang.”
- “Menjaga amanah kelas (barang, uang, atau informasi) dengan sangat baik dan segera melapor bila menemukan hal yang tidak sesuai.”
- “Terbiasa menyampaikan informasi sesuai fakta, tidak melebih-lebihkan maupun mengurangi, baik kepada guru maupun teman.”
- “Selalu jujur dalam penggunaan fasilitas sekolah dan keuangan, serta menunjukkan integritas dalam setiap tanggung jawab yang diemban.”
[1](https://hellosehat.com/parenting/anak-6-sampai-9-tahun/perkembangan-anak/contoh-sikap-jujur-anak-di-sekolah/)
[2](https://brainly.co.id/tugas/802939)
[3](https://www.halodoc.com/artikel/contoh-perilaku-jujur-dasar-utama-pendidikan-karakter-anak)
[4](https://www.smadwiwarna.sch.id/contoh-sikap-jujur/)
[5](https://www.gramedia.com/literasi/contoh-perilaku-jujur-dan-manfaatnya/)
[6](https://jim.usk.ac.id/pgsd/article/download/28379/12930)
[7](https://kumparan.com/berita-hari-ini/contoh-perilaku-jujur-di-lingkungan-rumah-sekolah-dan-masyarakat-1v1HF12oMnj)
[8](https://www.brilio.net/ragam/9-contoh-perilaku-jujur-di-sekolah-yang-patut-diterapkan-siswa-230508y.html)
[9](https://www.bola.com/ragam/read/5459813/47-kata-kata-bijak-kejujuran-bikin-hidup-tenang-dan-apa-adanya)
Berikut langkah praktis menyusun deskripsi tingkat “Sangat Baik” yang ringkas dan jelas untuk sikap jujur di kelas:
1) Tentukan fokus perilaku
- Pilih 1–2 aspek paling penting, misalnya: “berkata jujur”, “tidak menyontek”, atau “menjaga amanah”.
- Hindari memasukkan terlalu banyak perilaku dalam satu kalimat agar tidak melebar.
2) Gunakan pola 3 unsur: SUBJEK + FREKUENSI + PERILAKU
- Subjek: “Siswa”, “Ia”, atau nama siswa.
- Frekuensi: “selalu”, “konsisten”, “secara mandiri”.
- Perilaku: perilaku jujur yang spesifik di kelas.
- Contoh pola: “Siswa selalu … secara … dalam ….”
3) Pilih kata kerja yang konkret dan dapat diamati
- Contoh kata kerja: “mengakui”, “menolak”, “menjaga”, “mengembalikan”, “mengatakan”.
- Hindari kata yang terlalu abstrak seperti “berakhlak mulia” tanpa contoh perilaku.
4) Batasi 1 kalimat maksimal 20 kata
- Jika lebih dari itu, potong menjadi dua kalimat singkat atau hilangkan frasa yang tidak penting.
- Fokus pada inti: seberapa sering dan dalam konteks apa siswa jujur.
5) Gunakan contoh kalimat sebagai template
- “Siswa selalu berkata apa adanya dan mengakui kesalahan tanpa perlu diminta.”
- “Siswa konsisten mengerjakan tugas secara mandiri dan menolak ajakan menyontek.”
- “Siswa selalu menjaga amanah kelas dan mengembalikan barang yang bukan miliknya.”
Dengan langkah ini, Bapak/Ibu bisa membuat deskripsi singkat lain cukup dengan mengganti bagian perilakunya saja, tanpa mengubah struktur kalimat.
[1](https://translate.google.com/translate?u=https%3A%2F%2Fwww.quora.com%2FWhat-are-your-top-tips-for-writing-concise-yet-vivid-descriptions&hl=id&sl=en&tl=id&client=srp)
[2](https://www.brainacademy.id/blog/contoh-teks-deskripsi-dan-strukturnya)
[3](https://www.gramedia.com/literasi/teks-deskripsi/)
[4](https://www.ruangguru.com/blog/contoh-teks-deskripsi-dan-strukturnya)
[5](https://halopenulis.com/tahapan-menulis-teks-deskripsi-yang-menarik/)
[6](https://www.tempo.co/politik/ciri-ciri-teks-deskripsi-cara-menyusun-dan-contohnya-1178792)
[7](https://www.detik.com/sumut/berita/d-6545044/15-contoh-teks-deskripsi-lengkap-dengan-ciri-struktur-dan-jenisnya)
[8](https://help.x.com/id/using-x/write-image-descriptions)
[9](https://brainly.co.id/tugas/8026600)
[10](https://developers.google.com/search/docs/appearance/snippet?hl=id)